BPD JATENG

Mengingat Kembali BPD Jateng (Galatama) dan Widyantoro

Masih ingatkan anda dengan kesebelasan BPD Jateng? Ya, BPD Jateng merupakan klub bertabur bintang yang pernah mewarnai era Liga Sepak Bola Utama (Galatama) tahun 90-an. Meskipun BPD Jateng tidak menduduki posisi puncak pada liga tersebut, saya merasa memiliki keterikatan batin dengan klub tersebut. Pertama, saya kelahiran Magelang sehingga saya merasa dekat dengan klub tersebut yang berkedudukan di Semarang, ibukota propinsi Jawa Tengah. Kedua, Widyantoro sebagai striker utama waktu itu, merupakan teman sekolah saya waktu SMP, yaitu di SMP Negeri 2 Magelang. Bahkan waktu kelas 1, saya satu kelas dengan dia.

 

Setelah lama berpisah sejak lulus SMP, kemunculan Widyantoro sebagai striker BPD Jateng mengingatkan kembali pada sosok Widyantoro yang saya kenal waktu SMP. Pada saat itu, teman saya ini memang sudah dikenal sebagai jago main bola. Tendangan kaki kirinya, sudah dikenal sebagai tendangan gledek waktu itu. Waktu pelajaran olah raga, kalau main bola, biasanya satu kelas dibagi dua, saling berhadapan. Kalau satu tim dengan dia, betapa senangnya. Pasti menang deh ………… hehehe.

Mungkin beberapa pembaca masih kurang mengenal sosok Widyantoro. Apalagi jika umurnya masih di bawah 30 tahun. Padahal Widyantoro pernah menjadi striker timnas Indonesia sekitar tahun 1992-1993.

 

Baik, BPD Jateng pernah menduduki papan atas kompetisi Galatama 1992-1993. Waktu itu BPD Jateng berintikan pemain-pemain top, seperti Leo Mamesah, Jaya Hartono, Widyantoro, Yessie Mustamu, Inyong Lolombulan, Hamdani Lubis, M Kusnan dan Ricky Yakobi. Meski tidak menjadi juara, penampilan para pemain BPD yang disebut “The Dream Team” ketika itu mewarnai persepakbolaan nasional. Maklum para pemainnya adalah hasil rekrutan para pemain top Tanah Air.

Lepas dari masa jayanya sebagai pemain, pada tahun 2010 Widyantoro menangani tim tempat kelahirannya yaitu PPSM Magelang. Postur pria kelahiran 17 September 1970 tersebut tak banyak berubah de­ngan ketika dia masih menjadi pe­nye­rang yang cukup disegani di pentas se­pak bola nasional. Tak banyak lemak di tubuhnya yang cocok dengan ting­gi­nya 179 sentimeter. Bukti dia cukup di­se­gani pada masanya adalah klub ber­tabur bin­tang, BPD Jateng, pernah me­ngandal­kan­­nya untuk menggedor gawang lawan.

 

Skill-nya pun tak banyak hilang. Ketika memainkan bola pada sesi jajal lapangan, tendangannya masih kuat dan terarah. Hanya, usia yang terus bertambah membuatnya memutuskan pensiun pada 2006.

Melatih tim yang berkompetisi di Divisi I, Widi sukses mengangkat Simo Lodro, julukan PPSM, menembus ke level yang lebih tinggi, yakni Divisi Uta­ma. Sayang, dia harus merelakan posi­si­nya diganti oleh pelatih yang lebih senior, Yusack Sutanto, menjelang Kompetisi Divisi Utama 2009-2010 di mulai.

 

Kini Widyantoro menangani PSS Sleman yang berlaga di kompetisi Divisi Utama Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). PSS Sleman sendiri sebenarnya merupakan kesebelasan tangguh yang pernah berlaga di kasta tertinggi yaitu Divisi Utama Liga Indonesia 2003 dan 2004. PSS memiliki suporter yang menamakan dirinya Slemania. Stadion utama mereka adalah Stadion Maguwoharjo, dan menggunakan Stadion Tridadi sebagai stadion kedua.

 

Saya mengharapkan prestasi yang cemerlang akan mengikuti perjalanan karir Widyantoro sebagai pelatih. Meski waktu dan jarak telah memisahkan saya dan Widyantoro, tapi tidak akan menghapus kenangan saya terhadap dia. Buat Widyantoro, saya berharap anda membaca tulisan ini. Doa saya selalu menyertaimu, agar sehat dan sukses selalu. Salam hangat juga untuk keluarga.

 

Sumber